Foto: Para Penerima Kuasa Munawar & H. Sahlan Tokoh Masyarakat yang Sedang Menunjukan Salah Satu Tanah Milik Ahli Waris Yang di Beri Papan "Tanah Aset Pemerintah Kota Surabaya.
Berita Rakyat Surabaya – Sejumlah lahan atau tanah di daerah tambak Wedi Surabaya diduga menjadi sasaran oknum aparatur kelurahan untuk meraup keuntungan pribadinya, ini terbukti disaat pihak penerima kuasa ahli waris mendatangi kelurahan Tambak Wedi Surabaya pada Jum’at (07/04).
Munawar Zailani selaku penerima kuasa dari Ahli Waris H.Badrul Munir (almr), bernama Saiful Eko Djoko Wijono, Nurlaili Amanatul Husnah, M.S Laksono Kurnia. Dahulu diceritakan pada setahun yang lalu, pernah mendatangi kelurahan Tambak Wedi Surabaya. Untuk menyelesaikan kemelut tanah yang diduga adanya seorang oknum kelurahan yang telah menjual atau menyewakan tanah milik ahli waris kepada orang lain.
Namun niat Munawar Zailani selaku penerima kuasa oleh pihak kelurahan Tambak Wedi setahun yang lalu, tidak membuahkan hasil karena tidak ditanggapi dan direspon dengan baik dari lurah terdahulu. Meskipun dirinya bersama ahli waris menghadap lurah terdahulu dan pada saat itu juga menunjukan surat bukti kepemilikan berupa petok atas nama Badrul Munir (almr).
Kedatangan yang kedua kali ini, dikelurahan Tambak Wedi Surabaya oleh Munawar bersama tokoh masyarakat H. Sahlan selaku kuasa yang ditunjuk sebagai pengurusan dan penyelesaian tanah Ahli Waris H.Badrul Munir (almr.). Melakukan penjelasan dan klarifikasi atas berdirinya papan pengumuman diatas tanah milik ahli waris yang bertuliskan ‘TANAH INI MILIK PEMKOT & TANAH INI ASET NEGARA’ kepada Lurah Doddy Samsudin atas tanah yang di anggap telah dikuasi pihak lain yakni pihak Pemerintah Kota Surabaya.
Foto: Munawar Sebelah Kanan & H.Sahlan Sebelah Kiri di Kelurahan Tambak Wedi Surabaya.
Dari data yang di himpun berita rakyat sesuai surat penetapan Pengadilan Negeri No.941/Pdt.P/1992/PN.SBY. Ahli Waris H.Badrul Munir bahwa telah terjadi penunjukkan lokasi yang dilakukan oleh H.Muhadjir.HMD (mantan lurah lama Tambak Wedi). Hj.Nurlaili S.Ag (ahli waris H.Badrul Munir). Dan Ny. Wardoyo (saksi warga).
Adapun lokasi tanah yang ditunjuk adalah,
1. Persil 30 Luas 6000m2 (Tambak Wedi Tengah Lama 1A).
2. Persil 43 gang Linjo (Tambak Wedi Tengah Lama 1a)
3. Persil 43 Luas 1,5Ha (Tambak Wedi Baru gang lll ).
4. Persil 44 Tambak Wedi gang Masjid
5. Persil 46 Luas 3600m2 (Tambak Wedi Baru gang Xll).
6. Persil 48 600m2 (berhadapan dengan Persil 46).
Munawar Zailani selaku penerima kuasa dari ahli waris menjelaskan kepada berita rakyat, " Saya akan mengusut tuntas kasus tanah Tambak Wedi sebab saya sudah capek dipermainkan oleh Hj.Farida beserta kroni-kroninya. Kok bisa tanah ahli waris dipasang plang atau papan beruliskan Tanah Ini Aset Negara dan Milik Pemkot. Apalagi, para warga di sana telah membeli tanah melalui Hj.Farida, Anehnya kok bisa dapat surat petok baru dari dia. Artinya dia sudah mempermainkan surat ke-apsahan yang telah di putus oleh pengadilan Surabaya atas tanah milik ahli waris.” Tutur Munawar.
Malah dulu, Dia (Farida) menyatakan surat kretek atas nama almarhum Badrul Munir telah hilang. Kok aneh ? berkas dan surat penting bisa hilang!! ini lucu, terangnya.
Doddy Samsyudin Lurah tambak Wedi Surabaya enggan berkomentar kepada berita rakyat (07/04). Terkait tanah milik ahli waris yang diduga telah pindah tangan kepada pihak lain.
“Saya tidak ingin berkomentar apapun biarkan kita cek dulu bukti kepemilikan surat-surat yang dimiliki ahli waris lalu kita koordinasi dengan pemkot Surabaya, saya juga jadi lurah masih baru berapa bulan. Jadi saya gak mau komentar,” jelas Doddy.
Waktu terpisah pihak Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot) yang tidak ingin disebut namanya kepada wartawan (04/04). " Saya dulu hanya disuruh pasang papan atau plang itu mas, bersama pihak kecamatan. Atas perintah lurah dulu dan Hj. Farida, tapi saya sudah jelaskan bahwa tanah itu ada yang memiliki, bahkan tanah itu bukan tanah Pemkot mas. Tapi dia tetap perintah dan ngotot, lah yang Masang plang itu pihak SatPol-PP Kecamatan mas " ujar salah atau Staff Pemkot yang tidak mau disebut namanya (At).